Hujan Di Tol Bintaro

Aku cinta hujan.
Ia tidak pernah membuatku menangis,
malahan ia yang selalu menangis untuk aku,
mewakili air mata yang membeku.
Begitu baiknya dia.

Hujan tdk pernah menyakiti aku.
Kalau aku sakit karena kena hujan,
itu adalah kesalahanku sendiri.
Itulah cinta.
Tidak pernah menyalahkan.

Matahari menyakiti aku.
Aku tidak suka panasnya.
Ingin aku hapus jejaknya di lengan kananku,
tapi aku belum bisa.
Suatu hari nanti.
Pasti.

Dan jika hujan berlarut hingga banjir,
itu juga salahku sendiri:
Mengapa harus memendam rasa,
sampai tak ada lagi bendungan
yang sanggup untuk menahannya?

Posted in poetry | Leave a comment

Reasons I Get Hurt

Reasons I Get Hurt

  1. I fall for every single person who pays me the least bit of attention.
  2. I am too naive.
  3. I always believe in the better side of people, and hence will always give them the benefit of the doubt.
  4. I over think and over analyze.
  5. I expect too much from others just because I’ll be willing to do that much for them.
  6. I am way too sensitive for my own good.
  7. I forgive too easily, while others just simply, don’t.
  8. My head knows best but my heart doesn’t.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Paskah 2010

Paskah 2010

Jika mata dapat berbicara seperti mulut
dan mulut dapat melihat seperti mata
entah apa yang akan diungkapkan oleh mataku
dan apa yang akan disaksikan oleh mulutku.

Jika kulit dapat mendengar seperti telinga
dan telinga dapat merasa seperti kulit
entah apa yang akan dirasakan oleh telingaku
dan apa yang akan didengarkan oleh kulitku.

KebaikanMu, Tuhan
melampaui segala pengertian, akal, dan perasaan
tak satu pun panca inderaku dapat mengungkapkannya
betapa jiwa ini bersyukur padaMu.

Paskah adalah pesta kemenangan.
Dan meskipun ragaku tidak menyaksikannya
tetapi jiwaku mabuk dalam sembah dan hormat.
Aku kerasukan cintaMu.

Terima kasih untuk tidak selamanya mati, Tuhan.
Terima kasih karena Surga itu ada
dan Engkau tidak serakah untuk menempatinya sendiri,
tetapi ada tempat buat kami di sana.

Selamat Paskah, Tuhan.

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Labels aren’t for People

Labels aren't for People

Labels are for filing. Labels are for clothing. Labels are not for people.
~Martina Navratilova

Kemarin FPI kembali menunjukan keperkasaannya. Kongres kaum homoseksualitas di Surabaya berhasil mereka bubarkan dengan kekerasan. Kembali kekerasan menang, kembali kebodohan menang, kembali kemunafikan menang, kembali kebencian menang. Dan ini sudah abad ke 21.

Di dalam agama mana pun, tanpa perlu “polisi susila” macam FPI pun, homoseksualitas tidak mendapat dukungan, setidaknya tidak begitu direstui. Tetapi apakah dengan ancaman dan kekerasan orang yang mempunyai pilihan seksual berbeda dengan kebanyakan dari kita lalu menjadi “normal”? Saya mengerti bahwa kebebasan memilih dalam berpasangan yang seluas-luasnya bukanlah budaya orang timur, tetapi kaum gay dan lesbian Indonesia pun orang timur, bukan? Dan saya rasa pilihan seksual seseorang lebih ke masalah psikologi dibanding budaya. Tidak semua orang barat itu homoseksual dan penganut seks bebas, bukan? Dan tidak semua orang Timur Tengah, asal agama-agama utama di dunia, adalah penyuka lawan jenis.

Saya juga mengerti bahwa orangtua mana pun akan sedih melihat anaknya memilih untuk mencintai sesama jenis, tetapi membunuh sang anak pun tidak akan membuatnya untuk mencintai lawan jenis. Memiliki anak yang homoseksual saya rasa tidak sesedih memiliki anak yang munafik. Mengapa kita lebih bahagia jika orang membohongi dirinya sendiri dan kita ketimbang berani jujur menjadi dirinya sendiri? Toh tidak mengganggu siapa pun, malahan FPI dan sebagian kita yang sok moralis yang mengganggu mereka dan hak mereka sebagai individu?

Homoseksualitas bukanlah kejahatan seksual. Pemaksaan kehendak, termasuk pemerkosaan, adalah kejahatan. Termasuk pemaksaan kehendak seperti yang dilakukan oleh FPI. Mereka tidak keberatan kongres itu diadakan asalkan tujuannya adalah mengawinkan kaum gay dengan kaum lesbian. FPI itu lucu. Menyuruh seorang gay menikah dengan seorang lesbian itu sama saja dengan menyuruh kita yang menyukai lawan jenis untuk menikahi seorang homoseksual. Ya jelas tidak mungkin kan?

If God had wanted me otherwise, He would have created me otherwise.
~Johann von Goethe

Saya memiliki banyak sahabat yang baik, dan banyak dari mereka adalah kaum gay. Mereka baik bukan karena mereka gay, tetapi karena pada dasarnya mereka memiliki hati yang baik. Dan mereka jauh lebih baik dari beberapa orang penyuka lawan jenis. Moralitas, tingkat kerohanian, dan kebaikan hati seseorang tidak ditentukan oleh pilihannya dalam berpasangan. Lebih jahat mana: seorang homoseksual atau seorang kakek berusia 60 tahun yang memaksa seorang anak perempuan kecil berusia 12 tahun untuk menikah? Siapa yang lebih bejad dalam mengumbar birahinya?

Hidup ini adalah sebuah pilihan. Jika seseorang telah memilih dan dipilih oleh jalan hidupnya sendiri untuk menjadi seorang homoseksual, biarlah itu menjadi tanggung jawabnya pribadi dengan Tuhan. Kita tidak perlu memiliki polisi moralitas yang kejam, sedangkan Tuhan sendiri adalah sosok yang penuh kasih. Agama mana pun mengajarkan kebaikan. Saya percaya itu. Dan agama mana pun tidak menyuruh umatnya untuk berbuat keji kepada sesamanya, kecuali agama yang, maaf, bertuhankan setan. Orang-orang yang mengaku dan merasa dirinya suci, belum tentu dianggap suci di mata Tuhan. Penghakiman atas moralitas seseorang adalah sepenuhnya tanggung jawab Tuhan sebagai Sang Pencipta. Tanggung jawab kita sebagai ciptaanNya hanyalah berusaha menjadi orang yang baik untuk diri sendiri dan mengasihi sesama kita. Cukup sampai di situ saja.

Tuhan itu baik, sungguh baik, sangat baik, dan Maha Baik. Biarlah umat yang percaya kepadaNya mengikuti teladannya untuk menjadi orang yang baik dan menyelesaikan segalanya dengan kasih, bukan dengan kebencian dan kekejian. Kasihan jika nama Tuhan yang sangat mulia dan agung itu dipakai sebagai alasan untuk menyakiti sesama.

Selamat berakhir pekan. Tuhan memang Maha Besar, tanpa harus diteriakan saat cacian dilemparkan.

Never apologize for showing feeling. When you do so, you apologize for the truth.
~Benjamin Disraeli

Posted in Uncategorized | Leave a comment

C’est La Vie, Mes Amis…

Pernahkan anda memikirkan tentang “proses” bagaimana seseorang dapat menjadi sahabat anda? Hal ini baru terpikirkan oleh saya tadi pagi. Hal yang seharusnya sudah saya ketahui sejak lama, tapi tidak pernah saya pikiran sebelumnya.

Seseorang yang tadinya asing dengan kita, dipertemukan oleh suatu keadaan, atau mungkin dapat disebut nasib atau takdir. Jika terjadi kecocokan, maka orang yang tadinya terasa asing, menjadi teman kita. Melalui proses dan waktu, teman akhirnya menjadi sahabat. Dan saat persahabatan itu menjadi kian mendalam, sahabat itu akhirnya menjadi sedekat, atau mungkin lebih dekat daripada saudara kita.

Ada saat di mana persaudaraan itu mulai mengendur karena satu dan lain hal, dan jika terjadi dalam waktu yang cukup lama dan berlarut-larut, akhirnya “saudara” kita itu kembali menjadi orang asing. Ironis, tapi itulah hidup. C’est la vie. Manusia berubah sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Mungkin sahabat kita tidak lagi merasa nyaman dengan kita, atau mungkin kita tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya akan seorang sahabat. Biasanya, pihak yang mendadak punya kebutuhan lain yang meninggalkan pihak yang terlanjur merasa nyaman dan aman dengan persahabatan itu. Kecewa? Sudah pasti. Tapi kembali lagi, itulah hidup. C’est la vie.

Saya memiliki beberapa sahabat yang saya sayangi melebihi rasa sayang saya terhadap saudara saya sendiri. Dan orang-orang ini ada untuk saya di saat saya membutuhkan mereka lebih dari apa pun di dunia ini. Sayangnya, beberapa dari mereka kini terasa asing bagi saya. Saya hampir tidak dapat mengenali mereka. Saya sudah berusaha untuk menjaga kualitas hubungan kami, tetapi ternyata sia-sia. Dan sudah saatnya saya berhenti berusaha. Saya lelah. Biarlah mereka menjadi asing bagi saya, jika itu yang terbaik dan membuat mereka merasa nyaman. Sama halnya dengan saat saya menaruh hati kepada lawan jenis, saya tidak pernah mau untuk mengemis cinta seperti penyanyi dangdut patah hati. Demikian pula dengan persahabatan. Saya tidak mau untuk memaksa siapa pun untuk menjadi teman dan sahabat saya. Pemaksaan itu identik dengan pemerkosaan. Dan pemerkosaan itu menyiksa, meninggalkan luka batin.

Saya menemukan “kontrak” persahabatan yang indah sekali kemarin:

The Best Friend Contract

Disebutkan di atas antara lain bahwa sahabat itu selalu berbagi, selalu jujur satu sama lain, selalu berusaha untuk menyediakan waktu untuk sahabatnya, selalu menginginkan yang terbaik bagi sahabatnya. Saya pernah merasakan keindahan persahabatan yang semacam ini, tetapi sayangnya saya tidak lagi mendapatkannya dari beberapa orang yang mungkin tanpa pernyataan lisan telah menjadi “mantan sahabat”.

Saya lebih baik tidak punya pasangan daripada tidak memiliki sahabat sama sekali. Mungkin itu kesalahan terbesar saya: lebih membela sahabat ketimbang pacar, misalnya. Tetapi itulah saya. Orang yang mencintai saya harus dapat menerima sahabat saya, karena bagaimana pun, dalam keadaan “menjomblo” maupun tidak, saya tetap membutuhkan sosok sahabat.

Saat ini saya rindu sekali dengan persahabatan terindah yang pernah saya miliki. I really miss my so-called best friend and I wish things are still the same between us, but I can’t force anyone to keep me in their life. Saya merasa dibohongi beberapa kali. Mungkin bagi orang itu dan orang lain, itu hanyalah masalah kecil yang tidak perlu terlalu dibesar-besarkan atau didramatisir. Tapi kejujuran hati adalah modal utama dari setiap hubungan persahabatan yang sehat dan tulus. Tidak ada ketulusan dalam kebohongan, betapa pun kecil dan “sepelenya” kebohongan itu.

Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan siapa pun yang sedang dan pernah menjadi sahabat saya. Tidak ada momen seindah apa pun yang dapat menggantikan kenangan-kenangan indah yang pernah saya lalui bersama mereka. Saya tidak mengharapkan bahwa suatu hari siapa pun yang pernah menjadi sahabat saya akan kembali menjadi orang yang sama yang pernah saya kenal. Bukan karena gengsi atau tinggi hati, tetapi segala sesuatu yang pernah rusak, tidak akan pernah pulih seperti sedia kala. Saya tidak ingin membuang waktu dengan berandai-andai :)

Selama bukan saya yang menjadi penyebab perubahan “status” hubungan dari sahabat menjadi “orang asing”, saya tidak akan berlama-lama berusaha merebut kembali sahabat saya. Biarkan mereka dengan jalannya, dengan kebahagiaannya yang baru bersama teman-temannya. Saya cukup bahagia dengan apa yang saya punya saat ini, dengan segelintir kecil sahabat yang masih mau merangkul hati saya dengan kehangatan dan kejujuran.

Selamat pagi, dunia. Selamat pagi, teman-teman dan para sahabatku. Selamat pagi, orang-orang asing yang belum pernah saya temui. Mungkin suatu hari kalian akan mengisi ruang-ruang yang ada dalam hati saya sebagai sahabat, atau mungkin saudara sejiwa :)

I love you.

Posted in Uncategorized | 2 Comments