Pernahkan anda memikirkan tentang “proses” bagaimana seseorang dapat menjadi sahabat anda? Hal ini baru terpikirkan oleh saya tadi pagi. Hal yang seharusnya sudah saya ketahui sejak lama, tapi tidak pernah saya pikiran sebelumnya.
Seseorang yang tadinya asing dengan kita, dipertemukan oleh suatu keadaan, atau mungkin dapat disebut nasib atau takdir. Jika terjadi kecocokan, maka orang yang tadinya terasa asing, menjadi teman kita. Melalui proses dan waktu, teman akhirnya menjadi sahabat. Dan saat persahabatan itu menjadi kian mendalam, sahabat itu akhirnya menjadi sedekat, atau mungkin lebih dekat daripada saudara kita.
Ada saat di mana persaudaraan itu mulai mengendur karena satu dan lain hal, dan jika terjadi dalam waktu yang cukup lama dan berlarut-larut, akhirnya “saudara” kita itu kembali menjadi orang asing. Ironis, tapi itulah hidup. C’est la vie. Manusia berubah sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Mungkin sahabat kita tidak lagi merasa nyaman dengan kita, atau mungkin kita tidak lagi dapat memenuhi kebutuhannya akan seorang sahabat. Biasanya, pihak yang mendadak punya kebutuhan lain yang meninggalkan pihak yang terlanjur merasa nyaman dan aman dengan persahabatan itu. Kecewa? Sudah pasti. Tapi kembali lagi, itulah hidup. C’est la vie.
Saya memiliki beberapa sahabat yang saya sayangi melebihi rasa sayang saya terhadap saudara saya sendiri. Dan orang-orang ini ada untuk saya di saat saya membutuhkan mereka lebih dari apa pun di dunia ini. Sayangnya, beberapa dari mereka kini terasa asing bagi saya. Saya hampir tidak dapat mengenali mereka. Saya sudah berusaha untuk menjaga kualitas hubungan kami, tetapi ternyata sia-sia. Dan sudah saatnya saya berhenti berusaha. Saya lelah. Biarlah mereka menjadi asing bagi saya, jika itu yang terbaik dan membuat mereka merasa nyaman. Sama halnya dengan saat saya menaruh hati kepada lawan jenis, saya tidak pernah mau untuk mengemis cinta seperti penyanyi dangdut patah hati. Demikian pula dengan persahabatan. Saya tidak mau untuk memaksa siapa pun untuk menjadi teman dan sahabat saya. Pemaksaan itu identik dengan pemerkosaan. Dan pemerkosaan itu menyiksa, meninggalkan luka batin.
Saya menemukan “kontrak” persahabatan yang indah sekali kemarin:

Disebutkan di atas antara lain bahwa sahabat itu selalu berbagi, selalu jujur satu sama lain, selalu berusaha untuk menyediakan waktu untuk sahabatnya, selalu menginginkan yang terbaik bagi sahabatnya. Saya pernah merasakan keindahan persahabatan yang semacam ini, tetapi sayangnya saya tidak lagi mendapatkannya dari beberapa orang yang mungkin tanpa pernyataan lisan telah menjadi “mantan sahabat”.
Saya lebih baik tidak punya pasangan daripada tidak memiliki sahabat sama sekali. Mungkin itu kesalahan terbesar saya: lebih membela sahabat ketimbang pacar, misalnya. Tetapi itulah saya. Orang yang mencintai saya harus dapat menerima sahabat saya, karena bagaimana pun, dalam keadaan “menjomblo” maupun tidak, saya tetap membutuhkan sosok sahabat.
Saat ini saya rindu sekali dengan persahabatan terindah yang pernah saya miliki. I really miss my so-called best friend and I wish things are still the same between us, but I can’t force anyone to keep me in their life. Saya merasa dibohongi beberapa kali. Mungkin bagi orang itu dan orang lain, itu hanyalah masalah kecil yang tidak perlu terlalu dibesar-besarkan atau didramatisir. Tapi kejujuran hati adalah modal utama dari setiap hubungan persahabatan yang sehat dan tulus. Tidak ada ketulusan dalam kebohongan, betapa pun kecil dan “sepelenya” kebohongan itu.
Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan siapa pun yang sedang dan pernah menjadi sahabat saya. Tidak ada momen seindah apa pun yang dapat menggantikan kenangan-kenangan indah yang pernah saya lalui bersama mereka. Saya tidak mengharapkan bahwa suatu hari siapa pun yang pernah menjadi sahabat saya akan kembali menjadi orang yang sama yang pernah saya kenal. Bukan karena gengsi atau tinggi hati, tetapi segala sesuatu yang pernah rusak, tidak akan pernah pulih seperti sedia kala. Saya tidak ingin membuang waktu dengan berandai-andai
Selama bukan saya yang menjadi penyebab perubahan “status” hubungan dari sahabat menjadi “orang asing”, saya tidak akan berlama-lama berusaha merebut kembali sahabat saya. Biarkan mereka dengan jalannya, dengan kebahagiaannya yang baru bersama teman-temannya. Saya cukup bahagia dengan apa yang saya punya saat ini, dengan segelintir kecil sahabat yang masih mau merangkul hati saya dengan kehangatan dan kejujuran.
Selamat pagi, dunia. Selamat pagi, teman-teman dan para sahabatku. Selamat pagi, orang-orang asing yang belum pernah saya temui. Mungkin suatu hari kalian akan mengisi ruang-ruang yang ada dalam hati saya sebagai sahabat, atau mungkin saudara sejiwa
I love you.